Selasa, 23 Juni 2026

 

Menanamkan Karakter Religius Melalui Pembiasaan Salat Dhuha di Sekolah Dasar

Oleh: BIDAYATUL MAGHFIROH, S.Pd.I
Guru Pendidikan Agama Islam
SD Negeri Kragilan


Pendidikan pada hakikatnya tidak hanya bertujuan mencerdaskan peserta didik, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak yang mulia. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat, tantangan pendidikan semakin kompleks. Sekolah dituntut tidak hanya menghasilkan siswa yang berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki kepribadian yang baik, disiplin, bertanggung jawab, dan berlandaskan nilai-nilai keagamaan.

Sebagai guru Pendidikan Agama Islam di sekolah dasar, saya meyakini bahwa pembentukan karakter harus dimulai sejak usia dini. Masa sekolah dasar merupakan periode penting dalam pembentukan kebiasaan dan nilai-nilai yang akan melekat hingga dewasa. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya nyata yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga diwujudkan melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

Salah satu program yang efektif dalam menanamkan karakter religius adalah pembiasaan salat Dhuha. Ibadah sunnah ini memiliki nilai pendidikan yang sangat besar. Ketika peserta didik dibiasakan melaksanakan salat Dhuha secara rutin, mereka belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, ketaatan, serta pentingnya mendekatkan diri kepada Allah Swt. sebelum memulai aktivitas belajar.

Di SD Negeri Kragilan pembiasaan salat Dhuha menjadi bagian dari budaya sekolah yang terus dikembangkan. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman keagamaan peserta didik, tetapi juga membentuk karakter positif dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama, peserta didik belajar menghargai waktu, mematuhi aturan, dan membangun kebersamaan dengan teman-temannya.

Pengalaman selama mendampingi peserta didik menunjukkan bahwa pembiasaan ibadah memberikan dampak yang nyata terhadap perilaku mereka. Anak-anak menjadi lebih tertib, lebih santun dalam berbicara, serta lebih mudah diarahkan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Mereka juga mulai memahami bahwa keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh usaha dan kecerdasan, tetapi juga oleh doa serta kedekatan kepada Allah Swt.

Di era modern saat ini, pendidikan karakter sering kali menjadi perhatian utama para pendidik. Berbagai program dirancang untuk membentuk profil pelajar yang berakhlak mulia. Namun demikian, pembentukan karakter tidak dapat dilakukan hanya melalui ceramah atau nasihat. Karakter tumbuh melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten dan berulang. Karena itulah, pembiasaan salat Dhuha menjadi salah satu strategi yang relevan dan efektif dalam pendidikan karakter.

Keberhasilan program ini tentu memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Guru harus menjadi teladan yang baik, kepala sekolah memberikan dukungan kebijakan, dan orang tua melanjutkan pembiasaan tersebut di rumah. Ketika sekolah dan keluarga memiliki visi yang sama dalam membentuk karakter anak, hasil yang dicapai akan lebih optimal.

Selain itu, pembiasaan salat Dhuha juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai syukur kepada peserta didik. Di tengah berbagai kemudahan yang mereka nikmati, anak-anak perlu diajarkan untuk selalu mengingat dan bersyukur kepada Allah Swt. atas segala nikmat yang diberikan. Nilai syukur inilah yang akan membentuk pribadi yang rendah hati, tidak mudah mengeluh, dan senantiasa berusaha menjadi lebih baik.

Pada akhirnya, pendidikan yang berhasil bukan hanya pendidikan yang menghasilkan nilai akademik tinggi, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang berakhlak mulia. Pembiasaan salat Dhuha mungkin tampak sederhana, namun memiliki makna yang besar dalam membangun fondasi karakter peserta didik. Dari kebiasaan yang dilakukan setiap hari, tumbuh nilai-nilai religius yang akan menjadi bekal mereka dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa depan.

Sebagai pendidik, kita memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan sosial. Melalui pembiasaan salat Dhuha, sekolah dapat menjadi tempat tumbuhnya generasi yang beriman, berakhlak mulia, serta siap memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa, dan agama.

 

Profil Penulis

Bidayatul Maghfiroh, S.Pd.I adalah Guru Pendidikan Agama Islam di SD Negeri Kragilan. Aktif mengembangkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang inovatif serta program pembiasaan keagamaan untuk memperkuat karakter religius peserta didik. Artikel ini merupakan refleksi pengalaman penulis dalam mendampingi dan membina peserta didik di lingkungan sekolah dasar.

Minggu, 06 Januari 2019

Membuat Lampu Hias dari Kardus Bekas



Dengan memanfaatkan siswa membuat lampu hias sederhana. Manfaat dari kegiatan ini agar siswa lebih memahami tentang rangkaian listrik pada Mata Pelajaran IPA.

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat lampu hias anatara lain;
  • kardus bekas
  • gunting
  • lem bakar
  • bohlam
  • kabel
  • fitting
  • saklar
cara membuat:
  • potong kardus berbentuk lingkaran sebanyak 2 buah, gunting di bagian sisinya untuk melekatkan potongan kardus yang benbentuk persegi panjang (salah satu lingkaran di lubangi untuk tempat bohlam)
  • potong kardus berbentuk persegi panjang sebanyak 7 buah
  • susun kabel, bohlam, saklar, dan fitting menjadi rangkaian listrik










Rabu, 06 Juni 2018

Gerakan Menanam 1000 Pohon SDN Sebomenggalan Bersama SDN Kragilan

SDN Sebomenggalan merupakan mitra dari SDN Kragilan. SDN Kragilan bekerjasama dengan SDN Sebomenggalan dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Salah satunya dengan kegiatan gerakan menanam 1000 pohon. SDN Sebomenggalan membagikan bibit Albesiah untuk di tanam di hutan sekolah SDN Kragilan, di daerah yang rawan longsor, dan sebagian di bagikan kepada wali murid.
  
 

 SDN Sebomenggalan bersama guru dan murid SDN Kragilan melakukan penghijauan di hutan Sekolah SDN Kragilan.





Sanitasi di SDN Kragilan

Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.

Sanitasi merupakan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan sekolah. Dalam menunjang Sanitasi di sekolah, SDN Kragilan menyediakan fasilitas 4 kamar kecil/ WC yang digunakan oleh siswa dan 1 kamar kecil/ WC guru. Sedangkan saluran pembuangan air yang terdapat di sekeliling sekolah mendapatkan perawatan secara berkala, terlebih pada musim hujan.

Perawatan kamar mandi dilakukan oleh anak-anak, guru, dan penjaga sekolah agar selalu terjaga kebersihannya. Sedangkan perawatan saluran sebulan sekali diadakan kegiatan Sabtu bersih agar kondisi selokan air lancar untuk pembuangan.

Selain itu pembuatan lubang biopori juga dilakukan untuk mencegah air menggenang. Ada 31 titik lubang biopori yang dibuat di SDN Kragilan.

                    
  
Lubang biopori dibersikan secara berkala untuk mengangangkat kotoran yang terbawa air sehingga menutup lubang biopori. Kegiatan ini dilakukan oleh siswa, dipandu oleh guru dan penjaga sekolah.


   









Pengelolan Air di SDN Kragilan

Kita dapat membayangkan apabila di sekolah kekurangan air bersih! tentunya sekolah menjadi kotor karena jarang atau tidak pernah dibersihkan, kamar mandi mengeluarkan bau yang tidak sedap, dan merasa tidak nyaman atau kesulitan bila kita hendak ke WC. Akibatnya lingkungan sekolah menjadi tidak sehat sehingga dapat mengganggu kenyamanan belajar.

Ketersediaan air bersih di sekolah sangat diperlukan dalam jumlah yang relatif banyak. Hal ini mengingat jumlah warga sekolah yang terdiri dari siswa, guru, dan karyawan dapat mencapai ratusan orang. Sehingga kebutuhan air bersih akan lebih banyak lagi. Jenis kebutuhan air di sekolah adalah untuk minum, membersihkan lantai, membersihkan WC, mencuci peralatan laboratorium dan menyiram tanaman.
Sumber air bersih yang digunakan bagi pemenuhan kebutuhan warga sekolah dapat berasal dari air PDAM, sumur gali dan sumur pompa, Untuk mengurangi keterbatasan air bersih di sekolah, dapat dilakukan dengan upaya penghematan melalui penentuan prioritas.

Misalnya, air bersih dari PDAM hanya digunakan untuk me-masak dan minum, air sumur digunakan untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK). Sedangkan untuk menyiram tanaman dan kolam ikan digunakan air yang berasal dari bak-bak penampungan air hujan dan limbah air wudhu.

Teknologi pengolahan air limbah yang digunakan tentu sangat mahal harganya. Sehingga di SDN Kragilan belum mampu memenuhi hal itu. Adapun cara untuk mengatasi keterbatasan air bersih dilakukan dengan cara penghematan air saat pamakaian dan selalu menutup kran air apabila terlihat terbuka sehingga air tidak terbuang percuma. Hal ini telah dilakukan melalui kegiatan pembiasaan dan pemasangan slogan hemat air.


Ada 11 tempat cuci tangan yang ada I SDN Kragilan.
6 terpasang di tiap kelas; 1 di perpustakaan; 1 di kantin; 1 di kamar mandi; 1 di UKS; dan terpasang 1 di dapur sekolah. Para siswa dibasakan untuk selalu mencuci tangan memakai sabun.


Selasa, 05 Juni 2018

Daftar Inventaris Tanaman di SDN Kragilan



 
NO TANAMAN LANGKA
1 Gowok
2 Kluwek
3 Kemundung
4 Wuni
5 Cermai
6 Naga sari
7 Vilo lemon
8 Palem kuning
9 Kemundung
10 Telo ayu
11 Kokosan
12 Namnaman
13 Ararea
14 Sawo bludru
15 Gayam
16 Belimbing wuluh
17 Manggis
18 Bisbul
19 Dewandaru
20 Duwet putih
21 Kakau
22 Caraka
23 Malapari
24 Manisjangan
25 Anggur laut
26 Kemang
27 Kayu putih
28 Kepel
29 Pronojiwo
30 Jambu alas
31 Kecapi
32 Suweg
 






 
NO TANAMAN OBAT
1 Sirih
2 Kumis Kucing
3 Kunyit
4 Yodium
5 Jahe
6 Laos
7 Temulawak
8 Kunyit putih
9 Adas Pulowaras
10 Lidah Buaya
11 Sereh
 













NO TANAMAN HIAS
1 Jenggot nabi
2 Wijaya kusuma
3 Anggrek
4 Krokot merah
5 Soko
6 Kenanga
7 Maranta batik
8 Lumbu keladi
9 Kamboja
10 Sepatu filum
11 Pucuk merah
12 Puring 
13 Cintamanis




















NO PALAWIJA
1 Kacang tanah
2 Kacang panjang
3 Jagung
4 Ketela
5 Ubi jalar
6 Talas
7 Ganyong
8 Kirut






















NO TANAMAN BUAH
1 Pepaya
2 Pisang
3 Mangga
4 Durian
5 Alpukat
6 Strobery
7 Cabai
8 Tomat




















NO TANAMAN SAYUR
1 Bayam
2 Cesim
3 Kangkung
4 Suring
5 Terung